"Semarang kaline banjir..."
(Semarang sungainya banjir...)
itu lagu jaman dulu (ga tau siapa pencipta dan penyanyinya- [eh kalau tidak salah Waljina] ).
Dari secuplik lagu tersebut, tergambar bahwa memang sejak jaman dulu memang
begitulah adanya.
Hmmmhhh...apa boleh buat this is my home town.
Apa ya menariknya Semarang ini? pertanyaan inilah yang membuat saya
exploring the web with Google [Google knows everything....]
exploring the web with Google [Google knows everything....]
Ini hasilnya.
Sejarah [singkat] Kota Semarang [sumber:Wikipedia]
Semarang pada awalnya merupakan sebuah kabupaten, yang didirikan oleh Raden
Kaji Kasepuhan (dikenal sebagai Pandan Arang) pada tanggal 2 Mei 1547 dan
disahkan oleh Sultan Hadiwijaya. Pada tahun 1906 Pemerintah Hindia Belanda
membentuk Kotapraja (gemeente) Semarang dipimpin oleh burgermeester, yang
menjadi cikal bakal pembentukan Kota Semarang. Kotamadya Semarang secara
definitif ditetapkan berdasarkan UU Nomor 13 tahun 1950 tentang pembentukan
kabupaten-kabupaten dalam lingkungan Provinsi Jawa Tengah.
Kaji Kasepuhan (dikenal sebagai Pandan Arang) pada tanggal 2 Mei 1547 dan
disahkan oleh Sultan Hadiwijaya. Pada tahun 1906 Pemerintah Hindia Belanda
membentuk Kotapraja (gemeente) Semarang dipimpin oleh burgermeester, yang
menjadi cikal bakal pembentukan Kota Semarang. Kotamadya Semarang secara
definitif ditetapkan berdasarkan UU Nomor 13 tahun 1950 tentang pembentukan
kabupaten-kabupaten dalam lingkungan Provinsi Jawa Tengah.
Geografis
Semarang adalah ibukota Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Semarang merupakan
salah kota yang dipimpin oleh walikota. Kota ini terletak sekitar 485 km
sebelah timur Jakarta, atau 308 km sebelah barat Surabaya. Semarang
berbatasan dengan Laut Jawa di utara, Kabupaten Demak di timur, Kabupaten
Semarang di selatan, dan Kabupaten Kendal di barat.
salah kota yang dipimpin oleh walikota. Kota ini terletak sekitar 485 km
sebelah timur Jakarta, atau 308 km sebelah barat Surabaya. Semarang
berbatasan dengan Laut Jawa di utara, Kabupaten Demak di timur, Kabupaten
Semarang di selatan, dan Kabupaten Kendal di barat.
Makanan Khas
Lumpia
Lumpia Semarang adalah makanan semacam rollade berisi rebung, telur, dan daging ayam atau udang.
Citarasa lumpia Semarang adalah perpaduan rasa Tionghoa dan Indonesia, karena memang penemunya adalah orangTionghoa Semarang yang menikah dengan orang Indonesia.
Makanan ini mulai dijajakan dan dikenal di Semarang pada waktu pesta olahraga GANEFO pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.
Lumpia Semarang adalah makanan semacam rollade berisi rebung, telur, dan daging ayam atau udang.Citarasa lumpia Semarang adalah perpaduan rasa Tionghoa dan Indonesia, karena memang penemunya adalah orangTionghoa Semarang yang menikah dengan orang Indonesia.
Makanan ini mulai dijajakan dan dikenal di Semarang pada waktu pesta olahraga GANEFO pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.
Tahu Pong
Arti harafiahnya adalah Tahu yang didalamnya kosong [kopong - Bahasa Jawa-], disantap dengan saus encer campuran dari petis dan bawang putih. kalau suka pedas tinggal tambahkan cabe rawit yang di giling, nyammmm........ :-)Tahu gimbal
Tahu gimbal contentnya terdiri dari tahu goreng yang diiris-iris [kurang lebih menjadi 4 potong], lontong, kol, tauge, plus irisan gimbal itu sendiri kemudian disiram sambal kacang. Telor ceplok adalah optional, artinya bisa ditambahkan bisa juga tidak. Gimbal itu sendiri adalah tepung yang di goreng tipis [seperti rempeyek] dan diberi beberapa potong udang.Bandeng Presto
Melihat namanya kiranya sudah cukup jelas, bahwa ini adalah Ikan bandeng yang di presto. Bandeng adalah ikan yang banyak durinya, dengan diolah secara presto [uap dengan tekanan tinggi] maka duri yang banyak itu menjadi lunak [jadi makan aja sekalian durinya...hehehe :-) ] oleh karennya sering juga disebut Bandeng duri lunak. Ada dua versi bandeng presto. Yang pertama yang diolah dan dikemas secara modern, biasanya banyak dijumpai di pusat oleh-oleh semarang seperti di Jalan Pandanaran. Yang kedua adalah diolah secara tradisional, yang ini banyak di jumpai di pasa tradisional, seperti pasar Johar. Keunggulan proses modern dibanding tradisonal adalah Bandeng tidak lagi berbau tanah.[Picturing] The past - Wajah masa lalu Kota Semarang
Ini adalah foto GEREJA BLENDUK jaman dulu, Blenduk means membulat, karena ada kubah di atasnya. Orang Semarang kalau menyebut sesuatu yang membulat itu mBlenduk [pakai m didepannya]Gereja Blenduk adalah Gereja Kristen tertua di Jawa Tengah yang dibangun oleh masyarakat Belanda1753, dengan bentuk heksagonal (persegi delapan). Gereja ini sesungguhnya bernama Indische Kerk. Terletak di Jl. Letjend. Suprapto 32.
Kubahnya besar, dilapisi perunggu, dan di dalamnya terdapat sebuah orgel Barok. Arsitektur di dalamnya dibuat berdasarkan salib Yunani. Gereja ini direnovasi pada 1894 oleh W. Westmaas dan H.P.A. de Wilde, yang menambahkan kedua menara di depan gedung gereja ini. Gereja ini masih dipergunakan setiap hari Minggu.
Ini adalah foto LAWANG SEWU. Lawang sewu, terjemahan bebasnya adalah "pintu seribu". Disebut demikian karena gedung tua ini mempunyai banyak pintu. Mitos yang beredar sekarang, Lawang sewu adalah gedung yang berhantu [karena memang tidak di fungsikan sih...], bahkan pernah di jadikan arena "uji nyali" salah satu stasu TV Swasta.
Kubahnya besar, dilapisi perunggu, dan di dalamnya terdapat sebuah orgel Barok. Arsitektur di dalamnya dibuat berdasarkan salib Yunani. Gereja ini direnovasi pada 1894 oleh W. Westmaas dan H.P.A. de Wilde, yang menambahkan kedua menara di depan gedung gereja ini. Gereja ini masih dipergunakan setiap hari Minggu.
Ini adalah foto LAWANG SEWU. Lawang sewu, terjemahan bebasnya adalah "pintu seribu". Disebut demikian karena gedung tua ini mempunyai banyak pintu. Mitos yang beredar sekarang, Lawang sewu adalah gedung yang berhantu [karena memang tidak di fungsikan sih...], bahkan pernah di jadikan arena "uji nyali" salah satu stasu TV Swasta. semula Lawang Sewu milik NV Nederlandsch Indische Spoorweg Mastshappij (NIS), yang merupakan cikal bakal perkeretapian di Indonesia. Saat itu ibu kota negeri jajahan ini memang berada di Jakarta. Namun pembangunan kereta api dimulai di Semarang.
Jalur pertama yang dilayani saat itu adalah Semarang - Yogyakarta. Pembangunan jalur itu dimulai 17 Juni 1864, ditandai dengan pencangkulan pertama oleh Gubernur Jendral Hindia Belanda Sloet van Den Beele. Tiga tahun kemudian, yaitu 19 Juli 1868 kereta api yang mengangkut penumpang umum sudah melayani jalur sejauh 25 km dari Semarang ke Tanggung.
Dengan beroperasinya jalur tersebut, NIS membutuhkan kantor untuk melaksanakan pekerjaan-pekerjaan administratif. Lokasi yang dipilih kemudian adalah di ujung Jalan Bojong (kini Jalan Pemuda). Lokasi itu merupakan perempatan Jalan Pandanaran, Jalan Dr Soetomo, dan Jalan Siliwangi (kini Jalan Soegijapranata).
Saat itu arsitek yang mendapat kepercayaan untuk membuat desain adalah Ir P de Rieau. Ada beberapa cetak biru bangunan itu, antara lain A 387 Ned. Ind. Spooweg Maatschappij yang dibuat Februari 1902, A 388 E Idem Lengtedoorsnede bulan September 1902, dan A 541 NISM Semarang Voorgevel Langevlenel yang dibuat tahun 1903. Ketiga cetak biru tersebut dibuat di Amsterdam.
Namun sampai Sloet Van Den Beele meninggal, pembangunan gedung itu belum dimulai. Pemerintah Belanda kemudian menunjuk Prof Jacob K Klinkhamer di Delft dan BJ Oudang untuk membangun gedung NIS di Semarang dengan mengacu arsitektur gaya Belanda.
Lokasi yang dipilih adalah lahan seluas 18.232 meter persegi di ujung Jalan Bojong, berdekatan dengan Jalan Pandanaran dan Jalan Dr Soetomo. Tampaknya posisi itu kemudian mengilhami dua arsitektur dari Belanda tersebut untuk membuat gedung bersayap, terdiri atas gedung induk, sayap kiri, dan sayap kanan.
Sebelum pembangunan dilakukan, calon lokasi gedung tersebut dikeruk sedalam 4 meter. Selanjutnya galian itu diurug dengan pasir vulkanik yang diambil dari Gunung Merapi.
Pondasi pertama dibuat 27 Februari 1904 dengan konstruksi beton berat dan di atasnya kemudian didirikan sebuah dinding dari batu belah. Semua material penting didatangkan dari Eropa, kecuali batu bata, batu gunung, dan kayu jati.
Setiap hari ratusan orang pribumi menggarap gedung ini. Lawang Sewu resmi digunakan tanggal 1 Juli 1907. Dalam perkembangannya, Lawang Sewu juga terkait dengan sejarah pertempuran lima hari di Semarang yang terpusat di kawasan proliman (Simpanglima) yang saat ini dikenal sebagai Tugu Muda. Pada peristiwa bersejarah yang terjadi 14 Agustus 1945 - 19 Agustus 1945 itu, gugur puluhan Angkatan Muda Kereta Api (AMKA). Lima di antaranya dimakamkan di halaman depan Lawang Sewu. Mereka adalah Noersam, Salamoen, Roesman, RM Soetardjo, dan RM Moenardi.
Kereta api kemudian menyerahkan halaman depan seluas 3.542,40 meter persegi pada Pemda Kodya Semarang. Sedangkan makam lima jenasah di halaman itu, 2 Juli 1975 dipindah ke Taman Makam Pahlawan Giri Tunggal dengan Inspektur Upacara Gubernur Jateng Soepardjo Roestam.
Ini adalah foto jembatan mBerok, lokasinya didepan Kantor Pos Besar Semarang. Konon dulu Sungai dibawahnya itu bisa dilayari oleh perahu dan kapal kecil, tapi kalau sekarang kita tengok, hmmmm airnya hitam dan berbau....
Jalur pertama yang dilayani saat itu adalah Semarang - Yogyakarta. Pembangunan jalur itu dimulai 17 Juni 1864, ditandai dengan pencangkulan pertama oleh Gubernur Jendral Hindia Belanda Sloet van Den Beele. Tiga tahun kemudian, yaitu 19 Juli 1868 kereta api yang mengangkut penumpang umum sudah melayani jalur sejauh 25 km dari Semarang ke Tanggung.Dengan beroperasinya jalur tersebut, NIS membutuhkan kantor untuk melaksanakan pekerjaan-pekerjaan administratif. Lokasi yang dipilih kemudian adalah di ujung Jalan Bojong (kini Jalan Pemuda). Lokasi itu merupakan perempatan Jalan Pandanaran, Jalan Dr Soetomo, dan Jalan Siliwangi (kini Jalan Soegijapranata).
Saat itu arsitek yang mendapat kepercayaan untuk membuat desain adalah Ir P de Rieau. Ada beberapa cetak biru bangunan itu, antara lain A 387 Ned. Ind. Spooweg Maatschappij yang dibuat Februari 1902, A 388 E Idem Lengtedoorsnede bulan September 1902, dan A 541 NISM Semarang Voorgevel Langevlenel yang dibuat tahun 1903. Ketiga cetak biru tersebut dibuat di Amsterdam.
Namun sampai Sloet Van Den Beele meninggal, pembangunan gedung itu belum dimulai. Pemerintah Belanda kemudian menunjuk Prof Jacob K Klinkhamer di Delft dan BJ Oudang untuk membangun gedung NIS di Semarang dengan mengacu arsitektur gaya Belanda.
Lokasi yang dipilih adalah lahan seluas 18.232 meter persegi di ujung Jalan Bojong, berdekatan dengan Jalan Pandanaran dan Jalan Dr Soetomo. Tampaknya posisi itu kemudian mengilhami dua arsitektur dari Belanda tersebut untuk membuat gedung bersayap, terdiri atas gedung induk, sayap kiri, dan sayap kanan.
Sebelum pembangunan dilakukan, calon lokasi gedung tersebut dikeruk sedalam 4 meter. Selanjutnya galian itu diurug dengan pasir vulkanik yang diambil dari Gunung Merapi.
Pondasi pertama dibuat 27 Februari 1904 dengan konstruksi beton berat dan di atasnya kemudian didirikan sebuah dinding dari batu belah. Semua material penting didatangkan dari Eropa, kecuali batu bata, batu gunung, dan kayu jati.
Setiap hari ratusan orang pribumi menggarap gedung ini. Lawang Sewu resmi digunakan tanggal 1 Juli 1907. Dalam perkembangannya, Lawang Sewu juga terkait dengan sejarah pertempuran lima hari di Semarang yang terpusat di kawasan proliman (Simpanglima) yang saat ini dikenal sebagai Tugu Muda. Pada peristiwa bersejarah yang terjadi 14 Agustus 1945 - 19 Agustus 1945 itu, gugur puluhan Angkatan Muda Kereta Api (AMKA). Lima di antaranya dimakamkan di halaman depan Lawang Sewu. Mereka adalah Noersam, Salamoen, Roesman, RM Soetardjo, dan RM Moenardi.
Kereta api kemudian menyerahkan halaman depan seluas 3.542,40 meter persegi pada Pemda Kodya Semarang. Sedangkan makam lima jenasah di halaman itu, 2 Juli 1975 dipindah ke Taman Makam Pahlawan Giri Tunggal dengan Inspektur Upacara Gubernur Jateng Soepardjo Roestam.
Ini adalah foto jembatan mBerok, lokasinya didepan Kantor Pos Besar Semarang. Konon dulu Sungai dibawahnya itu bisa dilayari oleh perahu dan kapal kecil, tapi kalau sekarang kita tengok, hmmmm airnya hitam dan berbau....
Ini adalah situasi di Kota lama. Di Sektor ini memang terdiri dari bangunan-bangunan ex Belanda, ada yang terbengkalai ada juga yang masih digunakan untuk perkantoran. Ini adalah pelabuhan Semarang tempo dulu.
Sementara itu yang saya peroleh, hmmm...jadi berpikir tentang exploring Semarang Recently...next post ajalah....
http://www.indonesiaindonesia.com/f/16495-pernah-liburan-kemana/
http://www.indonesiaindonesia.com/f/16495-pernah-liburan-kemana/

0 komentar:
Posting Komentar